Thursday, June 14, 2012

Penantianku Terhadap yang Halal Untukku.


Assalamu’alaikum warahmatullahi
wabarakatuh…
Entah angin apa yang membuai hari
ini, membuatku begitu berani
mencoretkan sesuatu untuk dirimu
yang tidak pernah aku kenali. Aku
sebenarnya tidak pernah berniat untuk
memperkenalkan diriku kepada
siapapun. Apalagi mencurahkan
sesuatu yang hanya aku khususkan
buatmu sebelum tiba masanya.
Kehadiran sseorang lelaki yang
menuntut sesuatu yang kujaga rapi
selama ini semata-mata buatmu, itulah
hati dan cintaku, membuatku tersadar
dari lenaku yang panjang.
Ibu telah mendidikku semenjak kecil
agar menjaga maruah dan mahkota
diriku karena Allah telah
menetapkannya untukmu suatu hari
nanti. Kata ibu, tanggungjawab ibu
bapak terhadap anak perempuan ialah
menjaga dan mendidiknya sehingga
seorang lelaki mengambil-alih
tanggungjawab itu dari mereka. Jadi,
kau telah wujud dalam diriku sejak
dulu. Sepanjang umurku ini, aku
menutup pintu hatiku dari lelaki
manapun karena aku tidak mau
membelakangimu.
Aku menghalang diriku dari mengenali
lelaki manapun karena aku tidak mau
mengenal lelaki lain selainmu, apa lagi
memahami mereka. Karena itulah aku
sekuat ‘kodrat yang lemah ini’
membatasi pergaulanku dengan bukan
mahramku. Aku lebih suka berada di
rumah karena rumah itu tempat yang
terbaik buat sorang perempuan. Aku
sering merasa tidak selamat dari
diperhatikan lelaki. Bukanlah aku
bersangka buruk terhadap kaummu,
tetapi lebih baik aku berwaspada
karena contoh banyak di depan mata.
Aku palingkan wajahku dari lelaki yang
asyik memperhatikan diriku atau coba
merayuku. Aku sedaya mungkin
melarikan pandanganku dari lelaki
ajnabi (asing) karena Sayyidah Aisyah
r.a pernah berpesan, “Sebaik-baik
wanita ialah yang tidak memandang
dan tidak dipandang oleh lelaki.” Aku
tidak ingin dipandang cantik oleh lelaki.
Biarlah aku hanya cantik di matamu.
Apalah gunanya aku menjadi idaman
banyak lelaki sedangkan aku hanya
bisa menjadi milikmu seorang. Aku
tidak merasa bangga menjadi rebutan
lelaki bahkan aku merasa terhina
diperlakukan sebegitu seolah-olah aku
ini barang yang bisa dimiliki sesuka
hati.
Aku juga tidak mau menjadi penyebab
kejatuhan seorang lelaki yang
dikecewakan lantaran terlalu
mengharapkan sesuatu yang tidak
dapat aku berikan. Bagaimana akan
kujawab di hadapan ALLAH kelak andai
ditanya? Adakah itu sumbanganku
kepada manusia selama hidup di muka
bumi? Kalau aku tidak ingin kau
memandang perempuan lain, aku
dululah yang perlu menundukkan
pandanganku. Aku harus memperbaiki
dan menghias pribadiku karena itulah
yang dituntut oleh Allah. Kalau aku
ingin lelaki yang baik menjadi suamiku,
aku juga perlu menjadi perempuan
yang baik. Bukankah Allah telah
menjanjikan perempuan yang baik itu
untuk lelaki yang baik?
Tidak kunafikan sebagai remaja, aku
memiliki perasaan untuk menyayangi
dan disayangi. Namun setiap kali
perasaan itu datang, setiap kali itulah
aku mengingatkan diriku bahwa aku
perlu menjaga perasaan itu karena ia
semata-mata untukmu. Allah telah
memuliakan seorang lelaki yang bakal
menjadi suamiku untuk menerima hati
dan perasaanku yang suci. Bukan hati
yang menjadi labuhan lelaki lain.
Engkau berhak mendapat kasih yang
tulen.
Diriku yang memang lemah ini telah
diuji oleh Allah saat seorang lelaki ingin
berkenalan denganku. Aku dengan
tegas menolak, berbagai macam dalil
aku kemukakan, tetapi dia tetap tidak
berputus asa. Aku merasa seolah-olah
kehidupanku yang tenang ini telah
dirampas dariku. Aku bertanya-tanya
adakah aku berada di tebing
kebinasaan ? Aku beristigfar memohon
ampunan-Nya. Aku juga berdoa agar
Pemilik Segala Rasa Cinta melindungi
diriku dari kejahatan.
Kehadirannya membuatku banyak
memikirkan tentang dirimu. Kau
kurasakan seolah-olah wujud
bersamaku. Di mana saja aku berada,
akal sadarku membuat perhitungan
denganmu. Aku tahu lelaki yang
menggodaku itu bukan dirimu. Malah
aku yakin pada gerak hatiku yang
mengatakan lelaki itu bukan teman
hidupku kelak.
Aku bukanlah seorang gadis yang
cerewet dalam memilih pasangan
hidup. Siapalah diriku untuk memilih
permata sedangkan aku hanyalah
sebutir pasir yang wujud di mana-
mana.
Tetapi aku juga punya keinginan
seperti wanita solehah yang lain,
dilamar lelaki yang bakal dinobatkan
sebagai ahli syurga, memimpinku ke
arah tujuan yang satu.
Tidak perlu kau memiliki wajah
setampan Nabi Yusuf Alaihisalam, juga
harta seluas perbendaharaan Nabi
Sulaiman Alaihisalam, atau kekuasaan
seluas kerajaan Nabi Muhammad
Shallallahu alaihi wa sallam, yang
mampu mendebarkan hati juataan
gadis untuk membuat aku terpikat.
Andainya kaulah jodohku yang tertulis
di Lauh Mahfuz, Allah pasti akan
menanamkan rasa kasih dalam hatiku
juga hatimu. Itu janji Allah. Akan tetapi,
selagi kita tidak diikat dengan ikatan
yang sah, selagi itu jangan
dimubazirkan perasaan itu karena kita
masih tidak mempunyai hak untuk
begitu. Juga jangan melampaui batas
yang telah Allah tetapkan. Aku takut
perbuatan-perbuatan seperti itu akan
memberi kesan yang tidak baik dalam
kehidupan kita kelak.
Permintaanku tidak banyak. Cukuplah
engkau menyerahkan seluruh dirimu
pada mencari ridha Illahi. Aku akan
merasa amat bernilai andai dapat
menjadi tiang penyangga ataupun
sandaran perjuanganmu. Bahkan aku
amat bersyukur pada Illahi kiranya
akulah yang ditakdirkan meniup
semangat juangmu, mengulurkan
tanganku untukmu berpaut sewaktu
rebah atau tersungkur di medan yang
dijanjikan Allah dengan kemenangan
atau syahid itu. Akan kukeringkan
darah dari lukamu dengan tanganku
sendiri. Itu impianku.
Aku pasti berendam airmata darah,
andainya engkau menyerahkan
seluruh cintamu kepadaku. Cukuplah
kau mencintai Allah dengan sepenuh
hatimu karena dengan mencintai Allah,
kau akan mencintaiku karena-Nya.
Cinta itu lebih abadi daripada cinta
biasa. Moga cinta itu juga yang akan
mempertemukan kita kembali di
syurga….
Wassalam…

0 komentar:

Post a Comment