Monday, August 13, 2012

Lelaki memang menyusahkan

LELAKI MEMANG MENYUSAHKAN !!!! ..
Jika kamu memperlakukannya dengan baik, ..
dia pikir kamujatuh cinta padanya ..
Jika tidak, kamu akan dibilang sombong ..
Jika kamu berpakaian bagus, ..
dia pikir kamu sedang mencoba untuk menggodanya ...
Jika tidak, dia bilang kamu kampungan ...
Jika kamu berdebat dengannya, ...
dia bilang kamu keras kepala ...
Jika kamu tetap diam, ..
dia bilang kamu nggak punya otak ...
Jika kamu lebih pintar dari pada dia, ..
dia akan kehilangan muka ..
Jika dia yang lebih pintar, ..
dia bilang dia paling hebat ...
Jika kamu tidak cinta padanya, ..
dia akan mencoba mendapatkanmu ...
Jika kamu mencintainya, ..
dia akan mencoba untuk meninggalkanmu ...
Jika kamu beritahu dia masalahmu, ..
dia bilang kamu menyusahkan ..
Jika tidak, dia bilang kamu tidak mempercayai mereka ..
Jika kamu cerewet pada dia, ..
kamu dibilang seperti seorang pengasuh baginya ...
Tapi jika dia yang cerewet ke kamu, ..
dia bilang itu karena dia perhatian ..
Jika kamu langgar janji kamu, ..
kamu tidak bisa dipercaya ...
Jika dia yang ingkari janjinya, ..
dia bilang melakukannya karena terpaksa ...
Jika kamu merokok, ..
kamu adalah cewek liar !!! ..
Tapi kalo dia yang merokok, ..
dia adalah seoranggentleman, WUIIHHH ..! ...
Jika kamu menyakitinya, ..
kamu dibilang perempuan kejam ...
Tapi jika dia yang menyakitimu, ..
dia bilang itu hanya karena kamu terlalu sensitif ...
dan terlalu sulit untuk dibuat bahagia !!!!!
Jika kamu mengirimkan ini pada cowok-cowok, ..
mereka pasti bersumpah kalau ini tidak benar ...
Tapi jika kamu tidak mengirimkan ini pada mereka, ..
kamu akan kehilangan kesempatan untuk mengatakan mereka egois ..!!! ...
hehehe sekarang giliran wanita nih sahabat ..

wanita memang susah dibuat bahagia

Jika dikatakan cantik dikira menggoda, ..
jika dibilang jelek di sangka menghina ..
Bila dibilang lemah dia protes, ..
 bila dibilang perkasa dia nangis ...
Maunya emansipasi, .. tapi disuruh benerin genteng, nolak ...
(sambil ngomel masa disamakan dengan cowok)
Maunya emansipasi, .. tapi disuruh berdiri di bis malah cemberut ..
 (sambil ngomel,Egois amat sih cowok ini tidak punya perasaan)
 Jika di tanyakan siapa yang paling di banggakan, ..
 kebanyakan bilang Ibunya, .. tapi kenapa ya .....
lebih bangga jadi wanita karir?, padahal ibunya adalah ibu rumah tangga ..!
Bila kesalahannya diingatkankan, .. mukanya merah ...
bila di ajari mukanya merah, ..
bila di sanjung mukanya merah ..
jika marah mukanya merah, kok sama semua? bingung ..!!
Ditanya ya atau tidak, jawabnya diam; ..
ditanya tidak atau ya, jawabnya diam; ..
ditanya ya atau ya, jawabnya diam, ..
ditanya tidak atau tidak, jawabnya diam, ..
ketika didiamkan malah marah ..
(repot kita disuruh jadi dukun yang bisa nebak jawabannya).
Di bilang ceriwis marah, ..
dibilang berisik ngambek, ..
dibilang banyak mulut tersinggung, ..
tapi kalau dibilang S u p e l ..
wadow seneng banget sama saja maksudnya ..
Dibilang gemuk engga senang ..
padahal maksud kita sehat gitu lho ...
dibilang kurus malah senang ..
padahal maksud kita "kenapa elo jadi begini .. !?!"
Itulah WANITA makin kita bingung makin dia suka.

Thursday, August 9, 2012

Kata Mutiara Sufi

Aku mencintai orang-orang sholeh, meskipun aku belum termasuk golongan mereka. Aku harap semoga aku mendapat syafaat dari mereka. Aku membenci orang-orang durhaka, meskipun sebenarnya, mungkin, aku termasuk golongan mereka. [Imam Syafi’i] *** Amr Bin Geis berkata sambil menangis di waktu menderita sakit yang mengantarkannya pada sakaratul maut : "Saya menangis bukan karena dunia yang kalian cintai, tetapi yang saya tangisi adalah … Terpisahnya tenggorokanku dari kehausan di musim panas, dan terpisahnya diriku dari bangun malam di musim dingin." [Muhammad Mahdi Al-Shifi] *** Sungguh, cinta dapat mengubah yang pahit menjadi manis.. Debu beralih emas.. Keruh menjadi bening.. Sakit menjadi sembuh.. Penjara berubah menjadi telaga.. Derita menjadi nikmat.. dan kemarahan menjadi rahmat.. Cintalah yang mampu meluluhkan besi.. Menghancurkan batu karang.. Membangkitkan yang mati dan memberikan kehidupan kepadanya.. serta membuat budak menjadi pemimpin.. [Jalaluddin Rumi] *** Semua orang mencintai wanita, tetapi mereka berkata: “Mencintai wanita adalah awal dari sebuah derita.” Bukan wanita yang membuat derita. Tetapi mencintai wanita yang tidak mencintaimulah yang akan menciptakan derita bagimu. [Imam Syafi’i] *** Malapetaka paling besar adalah bila engkau mencintai seseorang yang sedang mencintai orang lain. Atau jika engkau mengharapkan kebaikan seseorang, akan tetapi justru orang itu berharap agar kita celaka atau binasa. [Imam Syafi’i] *** Cinta adalah buhulnya iman, dimana orang tidak akan sejahtera maupun selamat dari ancaman ALLAH tanpa cinta. Maka hendaklah hamba itu berperilaku atas dasar cinta. [Ibnu Qayyim Al-Jauziyah] *** Jika mata batin Anda tidak mampu menangkap dan mencermati secara seksama terhadap kemuliaan dan kesempurnaan Sang Maha Pencipta dan tidak mampu mencintai_NYA dengan kecintaan yang amat sangat, maka Anda jangan sampai tidak mencintai pemberi nikmat dan yang berbuat baik kepada Anda. Anda jangan sekali-kali lebih rendah daripada seekor anjing, sebab anjing itu mencintai tuannya yang selalu berbuat baik kepadanya. [Imam Ghozali] *** Sekiranya aku disuruh memilih umur sampai seratus tahun dan kugunakan untuk beribadah kepada ALLAH dengan nyawaku diambil hari ini juga, niscaya kupilih nyawaku dicabut sekarang juga, karena rinduku kepada ALLAH dan Rasul_NYA serta orang- orang sholeh dari hamba-hamba_NYA. [Muhammad Mahdi Al-Shifi]

Ketika Dosa Sedalam Samudera

Pernahkah kita menghitung dosa yang
kita lakukan dalam satu hari, satu
minggu, satu bulan, satu tahun bahkan
sepanjang usia kita ?
Andaikan saja kita bersedia
menyediakan satu kotak kosong, lalu
kita masukkan semua dosa-dosa yang
kita lakukan, kira-kira apa yang terjadi ?
Saya menduga kuat bahwa kotak
tersebut sudah tak berbentuk kotak
lagi, karena tak mampu menaham
muatan dosa kita.
Bukankah shalat kita masih "bolong-
bolong" ? Bukankah pernah kita tahan
hak orang miskin yang ada di harta
kita ? Bukankah pernah kita kobarkan
rasa dengki dan permusuhan kepada
sesama muslim ? Bukankah kita
pernah melepitkan selembar amplop
agar urusan kita lancar ? Bukankah
pernah kita terima uang tak jelas
statusnya sehingga pendapatan kita
berlipat ganda ? Bukankah kita tak mau
menolong saudara kita yg dalam
kesulitan walaupun kita sanggup
menolongnya ?
Daftar ini akan menjadi sangat
panjang ...
Lalu, apa yang harus kita lakukan ?
Allah berfirman dalam Surat az-Zumar
[39]: 53
"Katakanlah: "Hai hamba-hambaKu
yang melampaui batas terhadap diri
mereka sendiri, janganlah kamu
berputus asa dari rahmat Allah.
Sesungguhnya Allah mengampuni
dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya
Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi
Maha Penyayang."
Indah benar ayat ini, Allah menyapa
kita dengan panggilan yang bernada
teguran, namun tidak diikuti dengan
kalimat yang berbau murka. Justru
Allah mengingatkan kita untuk tidak
berputus asa dari rahmat Allah. Allah
pun menjanjikan untuk mengampuni
dosa-dosa kita.
Karena itu, kosongkanlah lagi kotak
yang telah penuh tadi dengan taubat
pada-Nya.Kita kembalikan kotak itu
seperti keadaan semula, kita
kembalikan jiwa kita ke pada jiwa yang
fitri dan suci.
Jika anda mempunyai onta yang
lengkap dengan segala perabotannya,
lalu tiba-tiba onta itu hilang. Bukankah
anda sedih ? Bagaimana kalau tiba-tiba
onta itu datang kembali berjalan
menuju anda lengkap dengan segala
perbekalannya ? Bukankah Anda akan
bahagia ? "Ketahuilah," kata Rasul,
"Allah akan lebih senang lagi melihat
hamba-Nya yang berlumuran dosa
berjalan kembali menuju-Nya!"
Allah berfirman: "Dan kembalilah kamu
kepada Tuhanmu, dan berserah dirilah
kepada-Nya sebelum datang azab
kepadamu kemudian kamu tidak dapat
ditolong (lagi)." (QS 39:54)
Seperti onta yang sesat jalan dan
mungkin telah tenggelam di dasar
samudera, mengapa kita tak berjalan
kembali menuju Allah dan menangis di
"kaki kebesaran-Nya" mengakui
kesalahan kita dan memohon
ampunNya…
Wahai Tuhan Yang Kasih Sayang-Nya
lebih besar dari murka-Nya, Ampuni
kami Ya Allah!
Semoga Allah mengampuni dosa-dosa
kita semua, Aamiin ....
Salam Terkasih ..
Dari Sahabat Untuk Sahabat ...
~ o ~
Semoga bermanfaat dan Dapat Diambil
Hikmah-Nya ....
Silahkan DICOPAS atau DI SHARE, dan
Silahkan juga untuk men-TaG Sendiri''
atau Saling Bantu membantu NgEtaG ..
jika menurut sahabat note ini
bermanfaat ....

Berbagi Tips Merawat Cinta

Cinta tak ubahnya seperti pohon yang tak
selamanya terlihat segar.
Daun-daun yang dulu hijau cerah mulai menguning,
akhirnya coklat kaku.
Bunga-bunganya yang pernah indah merekah kini
layu.
Beberapa ujung tangkai pun mulai tampak
mengering.
Begitulah hidup... Tak ada yang tetap dalam hidup.
Semuanya dinamis: bergerak dan berubah,
tumbuh dan menyusut, berkembang dan tumbang.
Apa pun dan siapa pun. Termasuk, cinta suami
isteri.
Setidaknya, itulah yang kini dialami Bu Tati.
Ibu lima anak ini merasakan ada yang berkurang
dari suaminya.
Tidak seperti dulu ketika anak masih satu, dua,
hingga tiga.
Apalagi ketika belum ada anak. Wah, terlalu jauh
perbandingannya.
Saat dulu, suami Bu Tati tak pernah ketinggalan
telepon ke rumah sebelum pulang kantor.
Bahkan, sehari bisa tiga kali telepon. Kini, seminggu
dua kali sudah teramat bagus.
Itu pun karena ada yang mau ditanyakan.
Dulu, kemana pun Bu Tati pergi, suami selalu antar
jemput.
Paling tidak, mewanti-wanti agar ia berhati-hati.
“Hati-hati, ya Dik. Bisnya sering kebut-kebutan,” ucap
suami dengan penuh perhatian.
Kini, menanyakan tujuan pergi pun sudah sangat
bagus.
Dulu juga, suami kerap ngasih hadiah di hari-hari
bersejarah.
Di antaranya, hari kelahiran, dan tanggal pernikahan.
Walau hadiah cuma pulpen, buku harian, atau
Alquran saku.
Tapi, kesan yang timbul begitu dalam.
Kini, jangankan hadiah, ingat dengan momen itu
saja sudah bagus.
Mengingat-ingat masa lalu, bikin Bu Tati mengoreksi
diri. Apa yang salah.
Kalau cinta dihubung-hubungkan dengan
rupa,kenyataan itu mungkin bisa diterima.
Ia memang bukan Tati dua belas tahun lalu. Banyak
perubahan, memang.
Tapi, mestikah cinta dan perhatian harus menyusut..
sebagaimana berkerutnya wajah dan tidak
langsingnya tubuh. Apa layak itu jadi alasan.
Bukankah cinta terlihat dari pandangan mata hati.
Bukan dari simbol-simbol fisik yang terlihat dari
pandangan mata,
yang bisa menyilaukan ketika ada cahaya dan buram
di saat gelap.
Bukankah cinta perpaduan dari senang, kagum,
cocok, sayang. Bahkan, kasihan.
Tidak jarang, cinta tumbuh pesat dari akar kasihan.
Bukan hal aneh jika seorang pemuda langsung
melamar muslimah..
yang terusir dari rumahnya lantaran mengenakan
busana muslimah.
Ada juga muslimah yang dilamar lantaran statusnya
sebagai anak yatim miskin.
Lalu, kenapa cinta suami Bu Tati bisa menyusut.
Padahal kasih sayang Bu Tati tak pernah berkurang.
Dengan lima anak, Bu Tati pun mesti giat menggali
kasih sayang
agar bisa merata ke anak-anaknya.
Bukankah ini sebuah bukti bahwa adakalanya cinta
tersangkut pada rupa.
Menjamin lestarinya kasih sayang memang bukan
perkara mudah.
Dan, lebih tidak mudah lagi menjamin bahwa
kecantikan rupa tidak akan bergeser.
Karena sudah kepastian Allah bahwa muda akan
menapaki anak tangga usia menuju tua.
Semakin banyak anak tangga yang ditapaki, makin
berkurang nilai rupa.
Seorang teman Bu Tati pernah memberi anjuran
soal menjaga nilai rupa.
Sang teman menganjurkan agar Bu Tati diet, senam,
minum herba.
Tiga hal itu mesti dilakukan teratur dan terus-
menerus.
“Repot memang. Tapi, itu penting. Supaya cinta
suami tetap lestari,”
ungkap sang teman beriring canda.
Ucapan teman itu menguatkan dugaan Bu Tati: cinta
juga berbanding lurus dengan rupa.
Boleh-boleh saja Bu Tati berdalih bahwa cinta
melulu persoalan hati.
Tapi, bukankah manusia tidak semata-mata terdiri
dari hati dan rasa.
Bukankah fisik juga bagian dari unsur manusia. Dan
itu berarti keindahan rupa.
Jadi, bisa dibilang wajar kalau perhatian dan cinta
suami menurun
lantaran nilai rupa Bu Tati berkurang. Benarkah ?
Ah, rasanya tidak. Di simpangan ini, Bu Tati ragu
mau menempuh jalan mana.
Kok, sepertinya tidak adil....
Kalau dulu, Bu Tati masih sempat ngurus
kecantikan, kesegaran, dan kebugaran tubuh.
Tapi, sekarang? Duduk istirahat saja sudah sangat
sulit.
Selalu saja ada kesibukan: anak sakit, anak mau
berangkat sekolah, anak punya PR sekolah,
anak mau makan, memasak menu kesukaan suami,
mencuci, ngurus rumah.
Dan masih segudang persoalan rumah lainnya.
Itu pun belum termasuk tugas-tugas sosial
masyarakat.
Nah, gimana mau diet, kapan mau fitnes, gimana
bisa minum herba.
Bukankah diet butuh pilihan dan keteraturan
makanan yang sehat dan baik.
Dan itu berhubungan erat dengan waktu dan uang.
Begitu juga dengan fitnes dan herba.
Sulit kan kalau waktu dan uangnya belum memadai.
Jadi?
Harus ada langkah bersama supaya cinta tetap
terawat.
Tidak semua sangkutan-sangkutan yang bikin
redupnya cahaya cinta bersumber dari Bu Tati.
Bisa jadi, ada ketidakcocokan antara standar nilai
rupa suami dengan kenyataan yang semestinya.
Kalau nilai rilnya memang hanya lima puluh,
standarnya jangan dipatok sembilan puluh.
Susah ngejarnya. Paling tidak, selisih antara standar
dengan kenyataan tidak lebih dari sepuluh.
Dan nilai sepuluh ini bisa dikejar dengan diet dan
senam sederhana.
Kalau ada uang belanja lebih, bisa ditopang dengan
herba.
Memang, kehangatan cinta bisa lahir dari stabilnya
nilai rupa.
Tapi, unsur emosi pun punya andil yang lumayan
besar.
Kalau cinta cuma berpatok pada langgengnya rupa,
mungkin rumah tangga kakek nenek akan bubar
massal.
Di sinilah seninya bagaimana suami isteri bisa
memainkan emosi
sehingga cinta menjadi indah untuk dinikmati.
Kepiawaian mengelola emosi juga mampu
menjadikan cinta lestari.
Bayangkan, betapa jauhnya jarak usia antara
Rasulullah saw dengan Aisyah:
kira-kira empat puluh tiga tahun. Belum lagi
kesenjangan intelektual dan rupa.
Tapi, semua itu tidak jadi masalah lantaran irama
emosinya begitu rapi dan indah.
Rasulullah tidak perlu ragu berlomba lari bersama
isterinya,
mengecup kening isteri saat pergi ke masjid,
bersenda gurau layaknya teman,
berdiskusi layaknya guru dan murid, dan
sebagainya.
Justru, unsur emosilah yang kadang dominan dari
nilai rupa.
Bu Tati punya kesadaran baru. Bahwa, merawat
cinta merupakan upaya bersama
mengelola nilai rupa agar tidak jatuh drastis.
Dan, memainkan irama emosi dengan saling percaya
dan saling membutuhkan.
Cinta memang tak ubahnya seperti pohon yang
tidak selamanya segar.
Karena pohon memang tidak akan pernah kokoh
kalau hanya dinikmati kesejukan, keindahan, dan
buahnya.
Ia juga butuh siraman air, kesuburan tanah, dan
pagar perlindungan.